Jumat, 25 Mei 2018

Monitoring dan Evaluasi


Nama Kelompok :
1.      Achmad Setiawan
2.      Ahmad Soffan Ridho
3.      Ajeng Nur Arifah
4.      Akyunia Labiba
5.      Dewi Rahmawati
6.      Fitri Anasari

Monitoring merupakan suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan. Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi merupakan merupakan kegiatan yang menilai hasil yang diperoleh selama kegiatan pemantauan berlangsung. Lebih dari itu, evaluasi juga menilai hasil atau produk yang telah dihasilkan dari suatu rangkaian program sebagai dasar mengambil keputusan tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai dan tindakan selanjutnya yang diperlukan.

Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan pada atraksi wisata. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga perkembangan atraksi wisata, agar selalu dikunjungi oleh wisatawan. monitoring dilakukan untuk selalu mengawasi secara seksama kondisi atraksi wisata. Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil dari monitoring yang telah dilakukan. Apabila terjadi masalah dapat cepat diselesaikan. Apabila ada keluhan wisatawan atupun hal-hal lain dapat diselesaikan dengan cara evaluasi. Berikut ini merupakan contoh perencanaan monitoring dan evaluasi terhadap atraksi wisata :




Selasa, 13 Maret 2018

Kelembagaan Desa Wisata


  Nama Kelompok :
        1.  Fasya Inten Rinjani           (16/396355/SV/10568)
        2.  Febri Handoyo                  (16/396356/SV/10569)
        3.  Fitri Anasari                      (16/396357/SV/10570)
        4.  Give Morristi K.                (16/396359/SV/10572)



       1.  Struktur organisasi yang perlu untuk pengembangan Desa Wisata : 
        



      A.    Lingkup Kerja Ketua & Wakil Ketua
Tugas ketua adalah mengawasi kinerja bawahannya, mengawasi dan membantu kegiatan wisata yang diselenggarakan Desa Wisata. Ketua juga melakukan pemasaran dan humas untuk mengenalkan Desa Wisatanya kepada masyarakat di luar daerah. Tugas Wakil Ketua adalah membantu ketua dalam pelaksanaan tugasnya. Wakil Ketua juga harus terlibat dalam pemasaran dan humas.

      B.     Lingkup Kerja Sekretaris dan Bendahara
·         Sekretaris
Tugas Sekretaris adalah mengurus surat-surat yang diperlukan, mencatat notulensi ketika rapat, membuat proposal, dan lain-lain.
·         Bendahara
Tugas Bendahara adalah melakukan pengelolaan keuangan dengan baik.

      C.     Lingkup Kerja Sie Homestay dan Konsumsi
Tugas Sie Homestay dan Konsumsi adalah menyediakan homestay yang bagus untuk menginap wisatawan dan memasak untuk wisatawan.
       
      D.    Lingkup Kerja Sie Home Industry
Tugas Sie Home Industry adalah mengatur rumah-rumah produksi kerajinan dan kuliner untuk dapat dikunjungi oleh wisatawan saat proses produksi. Wisatawan juga dikondisikan agar dapat mencoba membuat kerajinan atau kuliner yang diproduksi.

      E.     Lingkup Kerja Sie Seni & Budaya
Tugas Sie Seni & Budaya adalah mengatur seni dan budaya yang dimiliki oleh Desa Wisata agar dapat ditampilkan saat wisatawan datang. Mengadakan latihan untuk para pemain Seni & Budaya agar dapat terlatih dan melakukan pertunjukan di depan wisatawan yang berkunjung.

      F.      Lingkup Kerja Sie Pengelolaan Atraksi
Tugas Sie Pengelolaan Atraksi adalah merawat dan mengelola atraksi yang ada agar tidak rusak dan tetap terjaga kelestriannya. Sehingga wisatawan sat berkunjung dapat menikmati atraksi tersebut.

      G.    Lingkup Kerja Sie K3
Tugas Sie K3 (Kebersihan, Keamanan dan Kesehatan) adalah menjaga kebersihan lingkungan yang dampaknya pasti akan memberikan kesehatan, menjaga keamanan wisatawan agar mereka nyaman ketika berkunjung ke Desa Wisata.

   Yang terlibat adalah :
      a.  Tokoh Adat
      b.  Pejabat Tertinggi (RT/RW)
      c.  Karang Taruna
      d.  Kepala Keluarga
      e.  Ibu-ibu PKK

         2.      A. Desa Wisata yang kelembagaannya tidak bagus :
Desa Wisata Lopati, Srandakan, Bantul : karena masyarakatnya belum sepenuhnya sadar wisata sehingga masyarakat kurang berperan aktif dalam pengelolaannya. Desa wisata ini juga terkesan terlalu bergantung pada Kepala Dukuh dan pihak-pihak luar yang ingin membantu pengembangan desa.

B.  Desa Wisata yang kelembagaannya bagus :
Desa Wisata Malasari, Bogor : karena kelembagaannya lengkap dan sudah terpetakan dengan baik sehingga para stafnya tidak melakukan over job dan hanya terfokus untuk mengurusi bidangnya masing-masing. Selain itu, Desa Wisata Malasari menganut suatu pola antara masyarakat yang saling mengikat dan diwadahi dalam forum. Sehingga masyarakat membentuk kerjasama untuk mencapai tujuan kepariwisataan yang ramah sesuai dengan prinsip mereka yang mengaplikasikan wisata ramah.




Senin, 12 Maret 2018

Kulap Desa Wisata Ngringinan

Hari Sabtu tanggal 10 Maret 2018 aku bersama teman-teman Kepariwisataan Sekolah Vokasi UGM angkatan 2016 melakukan kuliah lapangan ke Desa Wisata Ngringinan. Desa Wisata Ngringinan terletak di Palbapang, Bantul, Bantul, DIY. Aku bersama teman-teman berangkat dari Sekolah Vokasi UGM pukul 06.30 dan sampai di Desa Wisata Ngringinan pukul 07.30 menggunakan sepeda motor. Kami duduk sambil mengobrol dengan teman-teman sembari menunggu Pak Fathkur selaku dosen Manajemen Desa Wisata yang belum datang. Kami berkumpul di Museum Masa Belanda Bantul. Setelah beliau datang kami pun memulai tour di desa wisata ini.

           Kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari kelas A dan sebagian kelas B, dan kelompok kedua terdiri dari sebagian kelas B dan Kelas C. Aku masuk ke dalam kelompok pertama yang memulai tour dari Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus kemudian kembali ke Museum Masa Belanda Bantul. Sedangkan untuk kelompok kedua melakukan sebaliknya. Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus merupakan kawasan yang terdiri dari Pendopo, Gereja Ganjuran, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus dan Rumah Sakit. Aku dan teman-teman kelompok pertama berjalan dari Museum Masa Belanda Bantul sampai ke kawasan Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus bersama dengan guide kami yang bernama Windu Kuntoro.


Kawasan Gereja Ganjuran

Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Gereja Ganjuran. Gereja ini dibuat seperti pendopo dan dibuka 24 jam, siapapun boleh masuk untuk berdo’a dari semua kalangan agama. Ada banyak pilar di gereja ini dan terdapat banyak warna yang digunakan seperti lambang api warna merah melambangkan api roh kudus, warna kuning melambangkan kemuliaan, warna hijau melambangkan kedamaian. Ada burung pelikan di gereja ini, melambangkan induk yang menyerahkan hidupnya untuk anak-anaknya. Terdapat patung yesus dan bunda maria yang memakai baju adat tradisional jawa. Kawasan ini juga memiliki gamelan yang dimainkan saat misa di gereja. Disebelah gereja terdapat lonceng yang menghubungkan gereja dengan rumah sakit dibelakangnya. Lonceng ini berasal dari belgia dahulu kala lonceng ini jatuh disaat gempa bumi DIY Jateng pada tahun 2006, yang menyebabkan 4 orang meninggal. Lonceng ini akan berbunyi jam 6 pagi, jam 12 siang, jam 6 sore dan setengah jam sebelum misa. Kursi peninggalan zaman Belanda di gereja ini hanya tinggal 2 buah saja yang diatasnya ada tutup yang bisa dibuka dan didalamnya dapat dibuat untuk menyimpan barang (buku do’a / alkitab).

Gereja Ganjuran Tampak Depan

Altar Gereja

Setelah puas berkeliling di Gereja Ganjuran, kami beranjak ke objek wisata kedua yaitu Candi Ganjuran. Candi ini dibangun oleh seorang katholik dengan style bangunannya yang beraliran Hindu. Candi ini memiliki 3 komponen seperti candi pada umumnya yaitu kamadhatu, arupadhatu dan rupadhatu. Candi ini menghadap ke selatan dan tidak ada reliefnya. Dibangun tahun 1927 diresmikan tahun 1930. Tahun 1860 ada 2 orang belanda Stefanus baren dan Elisa milenima yang menikah kemudian dapat konsesi dari HB 7 untuk menyewa tanah perkebunan dan sawah. Tanah-tanah tersebut milik priyayi-priyayi yang biasanya diberi pelunggu sebagai gaji, oleh Sultan HB VII pelunggunya ditarik dan diberi gaji sebagai gantinya. Dahulu ada 17 pabrik gula di desa ini namun sekarang sudah tidak ada semua. Dahulu di Pulau Jawa terdapat 174 pabrik gula yang menyebabkan Hindia-Belanda menjadi eksportir gula terbesar di dunia. Pada Tahun 1920 ekonomi di dunia mengalami keterpurukan, produksi gula di Pulau Jawa ditekan, dan imbasnya semua pabrik gula tutup akibatnya yang punya pertahanan bagus yang masih bisa bertahan yaitu Medari, Wonocatur, Sleman, Mberan, Bantul, Sedayu dan Ganjuran. Sebagai rasa syukur pada Tuhan karena pabrik gulanya tidak bangkrut maka dibangun Candi Ganjuran.

Candi Ganjuran

     Didalam candi keluar mata air yang mengalir, yang sekarang dibuat kran-kran air untuk pengaliran. Mata air ini diberi nama Perwitosari. Sebelum dialirkan mata air ini diberi pemurnian terlebih dahulu sehingga dapat diminum langsung tanpa dimasak. Di belakang candi terdapat tempat-tempat untuk menaruh banyak lilin. Jika malam hari lilin akan dinyalakan dan menjadi pemandangan yang bagus. Sekitar candi terdapat banyak pohon yang memiliki filosofi. Salah satunya adalah pohon gayam filosofinya membuat tentram, kandungan akar dapat menahan air hujan dengan kuat.

Kran Mata Air Perwitosari
Setelah selesai berkeliling kami berjalan kembali menuju Museum Masa Belanda Bantul. Ditengah perjalanan kami bertemu kelompok kedua yang menggunakan sepeda motor menuju Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus. Kami merasa kesal karena kami hanya berjalan sedari tadi untuk menuju ke kawasan Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus sehingga capek, dan dalam perjaanan malah melihat kelompok lain yang berangkat menggunakan sepeda motor. Kesal memang tapi yasudah apa boleh buat, di perjalanan kami sempat salah jalan namun tak lama kemudian kami dapat sampai ke Museum Masa Belanda Bantul.

Museum Masa Belanda Bantul

Sesampainya di Museum Masa Belanda Bantul kami sudah disambut oleh Ibu Andriani sebagai pembuat Madumongso. Kami istirahat terlebih dahulu sambil berkeliling museum. Didalam museum ada foto yang menggambarkan Stasiun Kereta Palbapang di masa lampau yang menjadi pusat pertemuan kereta dari barat (Pabrik Gula Sewugalur), selatan (Pabrik Gula Gondanglipuro Ganjuran-Dawetan- Pabrik Gula Pundong) dan ke utara (Stasiun Bantul – Stasiun Tugu Jogjakarta). Juga film tentang Pabrik Gula Gondanglipuro Ganjuran yang sangat terkenal, suasana pabrik, suasana perkebunan tebu dan suasana pedesaan tempo dulu. Kami disuguhi peristiwa monumental peresmian Candi Ganjuran yang terkenal itu dengan foto-foto proses peletakan batu pertama sampai peresmiannya. Juga tidak kalah penting foto-foto peresmian Gereja Ganjuran yang merupakan jejak katholik Belanda pada tahun 1924. Tidak ketinggalan beberapa benda koleksi peninggalan zaman kolonial seperti mata uang, surat, pakaian dan lain-lain.

Kami kembali ke sisi lain bangunan museum untuk mendengarkan penjelasan dari Ibu Andriani. Penjelasan yang diberikan adalah bahan-bahan untuk membuat madumongso dan  cara pembuatannya. Pembuatan madumongso ada beberapa tahap, tahap yang perama yaitu membuat tape terlebih dahulu baru dicampur dengan bahan kelapa dan gula (enten-enten).. Setelah itu membuat tape ketan caranya beras ketan dikukus, setelah berubah warna baru dicuci kembali kemudian dimasukan lagi, setelah matang ditungggu sampai dingin, setelah dingin dicampur dengan ragi. Setelah jadi tape ketan dimasak kemudian dicampur dengan enten-enten tadi sehinga menjadi madumongso. Selain itu Ibu Adriani juga memasarkan produk madumongso kepada kami dan dijual dengan harga Rp 7.500,-/pack. Ada beberapa orang dari kami yang membeli madumongso. Ibu Andriani memulai usahanya pada tahun 2011, memilih usaha ini karena belum banyak pesaingnya, mungkin karena membuat madumongso cukup sulit dan membutuhkan tenaga yang ekstra.

Madumongso

Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Bu Andriani kami menunggu kelompok kedua kembali ke tampat kami. Selang beberapa waktu kelompok kedua datang dan kami pun mulai makan siang. Setelah makan siang kami berkumpul untuk mendengarkan penjelasan pak Fatkhur. Kemudian setelah selesai kami pun boleh pulang. Kami pulang dengan menggunakan sepeda motor. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dapat berkunjung ke Desa Wisata Ngringinan walaupun capek tapi terbayarkan dengan berbagai informasi yag aku dapatkan.




Jumat, 02 Maret 2018

PRABU BALADEWA, DARI KERAJAAN MANDURA

BALADEWA

      1.  Latar Belakang Tokoh

Baladewa atau Balarama disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak Kresna dan Dewi Subadra (istri Arjuna). Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana. Baladewa merupakan putra dari Basudewa dan Dewaki. Namun ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin. Dikisahkan, Kamsa, kakak Dewaki takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan putera kedelapan Dewaki. Oleh karena itu, ia menjebloskan Dewaki dan suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan Dewaki.

Saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, takdir berkata lain, bahwa anak yang kelak dilahirkannya ini tidak akan mati di tangan Kamsa. Maka secara ajaib janin itu pindah ke rahim Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa juga memiliki nama lain yaitu Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”.

Pada masa kecilnya, baladewa bernama Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia disebut Balarama atau Baladewa (bala=kuat). Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna. Saat mudanya, Baladewa pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya dan bergelar Wasi Jaladra. Baladewa memiliki dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Baladewa menjadi raja di Mandura mewarisi kerajaan dari sang ayah yaitu Basudewa. Ia menikah dengan Reawati, puteri Raiwata dari Anarta dan dikaruniai dua orang anak bernama Wisata & Wimuka.

Saat perang Bharatayuddha, Prabu Baladewa sebenarnya memihak Korawa, namun dengan siasat Kresna, Baladewa tidak ikut dalam peperangan, ia justru bertapa di Grojogan Sewu. Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu, dan ia berjanji akan membangunkannya jika Bharatayuddha terjadi. Sebenarnya tujuan Kresna adalah agar Baladewa tidak mendengar saat perang Bharatayuddha terjadi, karena bila Baladewa ikut dalam peperangan, Pandawa pasti kalah karena Baladewa sangat sakti.

Ada yang mengatakan Baladewa adalah titisan naga, namun ada pula yang meyakini bahwa ia adalah titisan Sanghyang Basuki,  Dewa keselamatan. Baladewa berumur panjang, ia menjadi pamong dan penasihat Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang menggantikan Prabu Puntadewa. Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

      2.  Ciri Khas Wayang

Baladewa seringkali digambarkan berkulit putih kemerahan seperti turis (bule), khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Selain sebagai saudara, Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.

      3.  Sifat / karakter wayang yang sama dengan saya

Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya. Prabu Baladewa disegani kawan maupun lawan karena memegang prinsip menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Sikapnya tegas, tidak segan-segan melabrak atau memarahi orang yang dianggapnya bertindak salah. Karakter khas Baladewa adalah kejujuran dan sikapnya yang keras serta tidak bertele-tele. Dalam pewayangan, dilukiskan Baladewa adalah tokoh yang pemarah dan tegas namun sebenarnya hatinya lembut.

Sesuai dengan watak saya, saya juga sangat menyanyangi keluarga saya karena mereka merupakan rumah atau tempat berpijak saya dari lahir hingga sekarang. Saya lebih mengutamakan keluarga saya daripada teman-teman saya atau yang lainnya. Selain itu saya juga mudah marah dan mudah memaafkan, seringkali saya marah terhadap teman-teman saya karena suatu hal tetapi tidak berlangsung lama. Biasanya hanya sebentar karena saya tidak betah berlama-lama bertengkar dengan teman-teman saya. Terkadang saya bertindak serampangan tanpa dipikir panjang terlebih dahulu membuat saya menyesal di akhir perbuatan saya. Saya  memegang prinsip menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, saya selalu membela yang benar dan apabila ada kebohongan saya berusaha untuk menguak kebohongan tersebut. Saya juga bersikap tegas tidak suka bertele-tele, saya selalu dapat mengambil keputusan dan memegang prinsip dari hasil keputusan tersebut. Walaupun saya mudah marah dan tegas tetapi saya juga suka menolong teman, apabila saya bisa membantu maka akan saya bantu semaksimal mungkin.

      4.  Sumber :

·Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008. Artikel oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo.
            ·https://www.kaskus.co.id/thread/53199ffa3fcb173f048b46cb/indonesia-membutuhkan-sosok-pemimpin-seperti-balarama/

Jumat, 23 Februari 2018

Resume 4 : Ringkasan Dampak Pariwisata Rekreasi di Daerah Pedesaan by Fitri Anasari


Ringkasan Dampak Pariwisata Rekreasi di Daerah Pedesaan (sources: Mathieson and Wall, 1982; Grafton, 1984; White, 1985; Getz, 1986, 1993, 1994; Ciacco, 1990; King, 1991; McKercher, 1993; Hannigan, 1994; Hoggart et al., 1995; Page and Getz, 1997; Sharpley and Sharpley, 1997; Butler et al., 1998) :

  1.  Sosial Ekonomi :
a.       Positif
·  Menyediakan sumber pendapatan baru, sumber pendapatan alternatif atau penghasilan tambahan dan lapangan pekerjaan yang baru.
·  Membantu mengurangi ketidakseimbangan kekuatan sosial.
·  Mendorong kegiatan masyarakat yang kolektif.
·  Memberikan kesempatan untuk mempertahankan populasi di daerah yang mungkin mengalami depopulasi.
·  Memungkinkan area yang akan kembali dihuni oleh manusia.
·  Secara keseluruhan menimbulkan dampak multi ganda meskipun di daerah pedesaan ini jumlahnya tergolong lebih sedikit.

b.      Negatif
·         Menjadi penyebab terjadinya kebocoran ekonomi.
·         Inflansi pada harga produk lokal.
·         Migrasi tenaga kerja.
·         Mendistorsi struktur ketenagakerjaan lokal.
·         Mendistorsi pasar perumahan lokal.
·         Memperkuat persepsi pekerjaan perempuan sebagai pekerja dengan gaji rendah dan pekerja paruh waktu serta perpanjangan dari 'Peran Dalam Negeri'
·         Kompleks mandiri dengan pihak-pihak terkait yang lemah terhadap ekonomi lokal.
·         Pola permintaan musiman.

         2.  Budaya
a.     Positif
·         Menghidupkan kembali budaya lokal.
·         Menanamkan rasa kebanggaan terhadap budaya lokal, harga diri dan identitas.

b.    Negatif
·         Memproduksi atau mendistorsi budaya lokal untuk komodifikasi dan keaslian bertahap.
·         Menghancurkan budaya asli.

         3.  Fisik : dibangun (buatan) dan alami
a.    Positif
·         Kontribusi untuk konservasi dan perlindungan.
·         Membantu perbaikan dan penggunaan kembali properti yang tidak terpakai.

b.    Negatif
·         Perusakan habitat asli.
·         Membuang Sampah sembarangan, emisi dan bentuk lain dari polusi.
·         Kemacetan.
·         Perumusan konstruksi baru, mungkin dicangkokkan ke permukiman yang ada.


Sabtu, 17 Februari 2018

Rural Tourism and Recreation : Principles to Practice

Resume 3 : Rural Tourism and Recreation : Principles to Practice Chapter 1 Tabel 1.1
 by Fitri Anasari

Berbagai Pariwisata dan Kegiatan Rekreasi di Pedesaan :

1. Perjalanan (Touring)
a.       Mendaki
b.      Menunggang kuda
c.       Perjalanan di kafilah gipsi
d.      Perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor
e.       Kota kecil / perjalanan di desa
f.       Petualangan di saat liburan / petualangan di hutan belantara
g.      Bersepeda
h.      Menunggangi keledai / bermain ski lintas negara

      2. Macam-macam kegiatan yang berhubungan dengan air :
a.       Memancing
b.      Berenang
c.       Wisata sungai (rumah terapung, perahu kecil, kapal)
d.      Arung jeram (kano, kayak)
e.       Selancar
f.       Balapan perahu motor
g.      Berlayar

      3. Aktivitas Udara
a.       Tur dengan pesawat ringan
b.      Wisata dengan menggunakan pesawat Micro-light atau Hang-gliding
c.       Balon udara

      4. Aktivitas Olahraga
a.       Aktivitas yang terkait dengan alam
·         Menelusuri goa
·         Panjat tebing
·         Aktivitas olahraga dengan menggunakan atlas atau kompas
b.      Aktivitas yang sudah modifikasi
·         Bermain tenis
·         Bermain golf
·         Bermain ski menuruni bukit tingkat rendah

      5. Aktivitas Budaya
a.       Arkeologi
b.      Situs restorasi
c.       Penelitian warisan pedesaan
d.      Industri lokal, pertanian dan usaha kerajinan
e.       Museum
f.       Kursus membuat kerajinan
g.      Ekpresi artistik lokakarya
h.      Kelompok masyarakat
i.        Budaya, gastronomi dan lain-lain

        6.  Aktivitas yang berhubungan dengan kesehatan
a.       Pelatihan kebugaran
b.      Kursus hanggar
c.       Spa dan resort kesehatan

       7. Kegiatan Pasif
a.       Liburan santai di lingkungan pedesaan
b.      Belajar alam di ruang terbuka termasuk melihat burung dan fotografi
c.       Apresiasi pemandangan

       8. Acara khas suatu daerah
a.       Festival olahraga pedesaan
b.      Pertunjukan kegiatan pertanian

       9. Bisnis yang terkait
a.       Konvensi atau konferensi skala kecil
b.      Wisata intensif
 

Manajemen Desa Wisata Template by Ipietoon Cute Blog Design