BALADEWA
1. Latar Belakang Tokoh
Baladewa atau Balarama disebut juga Balabhadra dan
Halayudha, adalah kakak Kresna dan Dewi
Subadra (istri Arjuna). Waktu mudanya, Baladewa
bernama Raden Kakrasana. Baladewa merupakan putra dari Basudewa dan Dewaki.
Namun ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin. Dikisahkan,
Kamsa, kakak Dewaki takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di
tangan putera kedelapan Dewaki. Oleh karena itu, ia menjebloskan Dewaki dan
suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan Dewaki.
Saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, takdir berkata
lain, bahwa anak yang kelak dilahirkannya ini tidak akan mati di tangan Kamsa.
Maka secara ajaib janin itu pindah ke rahim Rohini yang sedang menginginkan
seorang putera. Maka dari itu, Baladewa juga memiliki nama lain yaitu
Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”.
Pada masa kecilnya, baladewa bernama Rama, dan karena
kekuatannya yang luar biasa, ia disebut Balarama atau Baladewa (bala=kuat).
Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi
bersama Kresna. Saat mudanya, Baladewa
pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya dan bergelar Wasi Jaladra. Baladewa
memiliki dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, pemberian Brahma. Ia
juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Baladewa menjadi raja
di Mandura mewarisi kerajaan dari sang ayah yaitu Basudewa. Ia menikah dengan Reawati,
puteri Raiwata dari Anarta dan dikaruniai dua orang anak bernama Wisata &
Wimuka.
Saat perang Bharatayuddha, Prabu Baladewa sebenarnya memihak
Korawa, namun dengan siasat Kresna, Baladewa tidak ikut dalam peperangan, ia
justru bertapa di Grojogan Sewu. Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di
Grojogan Sewu, dan ia berjanji akan membangunkannya jika Bharatayuddha terjadi.
Sebenarnya tujuan Kresna adalah agar Baladewa tidak mendengar saat perang
Bharatayuddha terjadi, karena bila Baladewa ikut dalam peperangan, Pandawa
pasti kalah karena Baladewa sangat sakti.
Ada yang mengatakan Baladewa adalah titisan naga, namun ada
pula yang meyakini bahwa ia adalah titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Baladewa berumur panjang,
ia menjadi pamong dan penasihat Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang
menggantikan Prabu Puntadewa. Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh
Wangsa Wresni.
2. Ciri Khas Wayang
Baladewa seringkali digambarkan berkulit putih kemerahan
seperti turis (bule), khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu
Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya
adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan
kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai
giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan
kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Selain
sebagai saudara, Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.
3. Sifat / karakter wayang yang sama dengan saya
Baladewa memiliki watak sangat menyayangi
keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun
pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol
dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Baladewa
bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu
serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu
sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah
berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya. Prabu Baladewa
disegani kawan maupun lawan karena memegang prinsip menjunjung tinggi kebenaran
dan keadilan. Sikapnya tegas, tidak segan-segan melabrak atau memarahi orang
yang dianggapnya bertindak salah. Karakter khas Baladewa adalah kejujuran dan
sikapnya yang keras serta tidak bertele-tele. Dalam pewayangan, dilukiskan
Baladewa adalah tokoh yang pemarah dan tegas namun sebenarnya hatinya lembut.
Sesuai dengan watak saya, saya juga sangat
menyanyangi keluarga saya karena mereka merupakan rumah atau tempat berpijak
saya dari lahir hingga sekarang. Saya lebih mengutamakan keluarga saya daripada
teman-teman saya atau yang lainnya. Selain itu saya juga mudah marah dan mudah
memaafkan, seringkali saya marah terhadap teman-teman saya karena suatu hal
tetapi tidak berlangsung lama. Biasanya hanya sebentar karena saya tidak betah
berlama-lama bertengkar dengan teman-teman saya. Terkadang saya bertindak
serampangan tanpa dipikir panjang terlebih dahulu membuat saya menyesal di
akhir perbuatan saya. Saya memegang
prinsip menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, saya selalu membela yang
benar dan apabila ada kebohongan saya berusaha untuk menguak kebohongan
tersebut. Saya juga bersikap tegas tidak suka bertele-tele, saya selalu dapat
mengambil keputusan dan memegang prinsip dari hasil keputusan tersebut. Walaupun
saya mudah marah dan tegas tetapi saya juga suka menolong teman, apabila saya
bisa membantu maka akan saya bantu semaksimal mungkin.
4. Sumber :
·Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008. Artikel oleh: Soegiyono MS, Guru SMP
Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo.
·https://web.facebook.com/notes/namikaze-d-aqobah/sifat-prabu-baladewa/10200709644062915/?_rdc=1&_rdr
·https://www.kaskus.co.id/thread/53199ffa3fcb173f048b46cb/indonesia-membutuhkan-sosok-pemimpin-seperti-balarama/

0 komentar:
Posting Komentar