Jumat, 02 Maret 2018

PRABU BALADEWA, DARI KERAJAAN MANDURA

BALADEWA

      1.  Latar Belakang Tokoh

Baladewa atau Balarama disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak Kresna dan Dewi Subadra (istri Arjuna). Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana. Baladewa merupakan putra dari Basudewa dan Dewaki. Namun ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin. Dikisahkan, Kamsa, kakak Dewaki takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan putera kedelapan Dewaki. Oleh karena itu, ia menjebloskan Dewaki dan suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan Dewaki.

Saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, takdir berkata lain, bahwa anak yang kelak dilahirkannya ini tidak akan mati di tangan Kamsa. Maka secara ajaib janin itu pindah ke rahim Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa juga memiliki nama lain yaitu Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”.

Pada masa kecilnya, baladewa bernama Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia disebut Balarama atau Baladewa (bala=kuat). Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna. Saat mudanya, Baladewa pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya dan bergelar Wasi Jaladra. Baladewa memiliki dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Baladewa menjadi raja di Mandura mewarisi kerajaan dari sang ayah yaitu Basudewa. Ia menikah dengan Reawati, puteri Raiwata dari Anarta dan dikaruniai dua orang anak bernama Wisata & Wimuka.

Saat perang Bharatayuddha, Prabu Baladewa sebenarnya memihak Korawa, namun dengan siasat Kresna, Baladewa tidak ikut dalam peperangan, ia justru bertapa di Grojogan Sewu. Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu, dan ia berjanji akan membangunkannya jika Bharatayuddha terjadi. Sebenarnya tujuan Kresna adalah agar Baladewa tidak mendengar saat perang Bharatayuddha terjadi, karena bila Baladewa ikut dalam peperangan, Pandawa pasti kalah karena Baladewa sangat sakti.

Ada yang mengatakan Baladewa adalah titisan naga, namun ada pula yang meyakini bahwa ia adalah titisan Sanghyang Basuki,  Dewa keselamatan. Baladewa berumur panjang, ia menjadi pamong dan penasihat Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang menggantikan Prabu Puntadewa. Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

      2.  Ciri Khas Wayang

Baladewa seringkali digambarkan berkulit putih kemerahan seperti turis (bule), khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Selain sebagai saudara, Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.

      3.  Sifat / karakter wayang yang sama dengan saya

Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya. Prabu Baladewa disegani kawan maupun lawan karena memegang prinsip menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Sikapnya tegas, tidak segan-segan melabrak atau memarahi orang yang dianggapnya bertindak salah. Karakter khas Baladewa adalah kejujuran dan sikapnya yang keras serta tidak bertele-tele. Dalam pewayangan, dilukiskan Baladewa adalah tokoh yang pemarah dan tegas namun sebenarnya hatinya lembut.

Sesuai dengan watak saya, saya juga sangat menyanyangi keluarga saya karena mereka merupakan rumah atau tempat berpijak saya dari lahir hingga sekarang. Saya lebih mengutamakan keluarga saya daripada teman-teman saya atau yang lainnya. Selain itu saya juga mudah marah dan mudah memaafkan, seringkali saya marah terhadap teman-teman saya karena suatu hal tetapi tidak berlangsung lama. Biasanya hanya sebentar karena saya tidak betah berlama-lama bertengkar dengan teman-teman saya. Terkadang saya bertindak serampangan tanpa dipikir panjang terlebih dahulu membuat saya menyesal di akhir perbuatan saya. Saya  memegang prinsip menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, saya selalu membela yang benar dan apabila ada kebohongan saya berusaha untuk menguak kebohongan tersebut. Saya juga bersikap tegas tidak suka bertele-tele, saya selalu dapat mengambil keputusan dan memegang prinsip dari hasil keputusan tersebut. Walaupun saya mudah marah dan tegas tetapi saya juga suka menolong teman, apabila saya bisa membantu maka akan saya bantu semaksimal mungkin.

      4.  Sumber :

·Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008. Artikel oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo.
            ·https://www.kaskus.co.id/thread/53199ffa3fcb173f048b46cb/indonesia-membutuhkan-sosok-pemimpin-seperti-balarama/

0 komentar:

Posting Komentar

 

Manajemen Desa Wisata Template by Ipietoon Cute Blog Design