Senin, 12 Maret 2018

Kulap Desa Wisata Ngringinan

Hari Sabtu tanggal 10 Maret 2018 aku bersama teman-teman Kepariwisataan Sekolah Vokasi UGM angkatan 2016 melakukan kuliah lapangan ke Desa Wisata Ngringinan. Desa Wisata Ngringinan terletak di Palbapang, Bantul, Bantul, DIY. Aku bersama teman-teman berangkat dari Sekolah Vokasi UGM pukul 06.30 dan sampai di Desa Wisata Ngringinan pukul 07.30 menggunakan sepeda motor. Kami duduk sambil mengobrol dengan teman-teman sembari menunggu Pak Fathkur selaku dosen Manajemen Desa Wisata yang belum datang. Kami berkumpul di Museum Masa Belanda Bantul. Setelah beliau datang kami pun memulai tour di desa wisata ini.

           Kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari kelas A dan sebagian kelas B, dan kelompok kedua terdiri dari sebagian kelas B dan Kelas C. Aku masuk ke dalam kelompok pertama yang memulai tour dari Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus kemudian kembali ke Museum Masa Belanda Bantul. Sedangkan untuk kelompok kedua melakukan sebaliknya. Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus merupakan kawasan yang terdiri dari Pendopo, Gereja Ganjuran, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus dan Rumah Sakit. Aku dan teman-teman kelompok pertama berjalan dari Museum Masa Belanda Bantul sampai ke kawasan Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus bersama dengan guide kami yang bernama Windu Kuntoro.


Kawasan Gereja Ganjuran

Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Gereja Ganjuran. Gereja ini dibuat seperti pendopo dan dibuka 24 jam, siapapun boleh masuk untuk berdo’a dari semua kalangan agama. Ada banyak pilar di gereja ini dan terdapat banyak warna yang digunakan seperti lambang api warna merah melambangkan api roh kudus, warna kuning melambangkan kemuliaan, warna hijau melambangkan kedamaian. Ada burung pelikan di gereja ini, melambangkan induk yang menyerahkan hidupnya untuk anak-anaknya. Terdapat patung yesus dan bunda maria yang memakai baju adat tradisional jawa. Kawasan ini juga memiliki gamelan yang dimainkan saat misa di gereja. Disebelah gereja terdapat lonceng yang menghubungkan gereja dengan rumah sakit dibelakangnya. Lonceng ini berasal dari belgia dahulu kala lonceng ini jatuh disaat gempa bumi DIY Jateng pada tahun 2006, yang menyebabkan 4 orang meninggal. Lonceng ini akan berbunyi jam 6 pagi, jam 12 siang, jam 6 sore dan setengah jam sebelum misa. Kursi peninggalan zaman Belanda di gereja ini hanya tinggal 2 buah saja yang diatasnya ada tutup yang bisa dibuka dan didalamnya dapat dibuat untuk menyimpan barang (buku do’a / alkitab).

Gereja Ganjuran Tampak Depan

Altar Gereja

Setelah puas berkeliling di Gereja Ganjuran, kami beranjak ke objek wisata kedua yaitu Candi Ganjuran. Candi ini dibangun oleh seorang katholik dengan style bangunannya yang beraliran Hindu. Candi ini memiliki 3 komponen seperti candi pada umumnya yaitu kamadhatu, arupadhatu dan rupadhatu. Candi ini menghadap ke selatan dan tidak ada reliefnya. Dibangun tahun 1927 diresmikan tahun 1930. Tahun 1860 ada 2 orang belanda Stefanus baren dan Elisa milenima yang menikah kemudian dapat konsesi dari HB 7 untuk menyewa tanah perkebunan dan sawah. Tanah-tanah tersebut milik priyayi-priyayi yang biasanya diberi pelunggu sebagai gaji, oleh Sultan HB VII pelunggunya ditarik dan diberi gaji sebagai gantinya. Dahulu ada 17 pabrik gula di desa ini namun sekarang sudah tidak ada semua. Dahulu di Pulau Jawa terdapat 174 pabrik gula yang menyebabkan Hindia-Belanda menjadi eksportir gula terbesar di dunia. Pada Tahun 1920 ekonomi di dunia mengalami keterpurukan, produksi gula di Pulau Jawa ditekan, dan imbasnya semua pabrik gula tutup akibatnya yang punya pertahanan bagus yang masih bisa bertahan yaitu Medari, Wonocatur, Sleman, Mberan, Bantul, Sedayu dan Ganjuran. Sebagai rasa syukur pada Tuhan karena pabrik gulanya tidak bangkrut maka dibangun Candi Ganjuran.

Candi Ganjuran

     Didalam candi keluar mata air yang mengalir, yang sekarang dibuat kran-kran air untuk pengaliran. Mata air ini diberi nama Perwitosari. Sebelum dialirkan mata air ini diberi pemurnian terlebih dahulu sehingga dapat diminum langsung tanpa dimasak. Di belakang candi terdapat tempat-tempat untuk menaruh banyak lilin. Jika malam hari lilin akan dinyalakan dan menjadi pemandangan yang bagus. Sekitar candi terdapat banyak pohon yang memiliki filosofi. Salah satunya adalah pohon gayam filosofinya membuat tentram, kandungan akar dapat menahan air hujan dengan kuat.

Kran Mata Air Perwitosari
Setelah selesai berkeliling kami berjalan kembali menuju Museum Masa Belanda Bantul. Ditengah perjalanan kami bertemu kelompok kedua yang menggunakan sepeda motor menuju Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus. Kami merasa kesal karena kami hanya berjalan sedari tadi untuk menuju ke kawasan Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus sehingga capek, dan dalam perjaanan malah melihat kelompok lain yang berangkat menggunakan sepeda motor. Kesal memang tapi yasudah apa boleh buat, di perjalanan kami sempat salah jalan namun tak lama kemudian kami dapat sampai ke Museum Masa Belanda Bantul.

Museum Masa Belanda Bantul

Sesampainya di Museum Masa Belanda Bantul kami sudah disambut oleh Ibu Andriani sebagai pembuat Madumongso. Kami istirahat terlebih dahulu sambil berkeliling museum. Didalam museum ada foto yang menggambarkan Stasiun Kereta Palbapang di masa lampau yang menjadi pusat pertemuan kereta dari barat (Pabrik Gula Sewugalur), selatan (Pabrik Gula Gondanglipuro Ganjuran-Dawetan- Pabrik Gula Pundong) dan ke utara (Stasiun Bantul – Stasiun Tugu Jogjakarta). Juga film tentang Pabrik Gula Gondanglipuro Ganjuran yang sangat terkenal, suasana pabrik, suasana perkebunan tebu dan suasana pedesaan tempo dulu. Kami disuguhi peristiwa monumental peresmian Candi Ganjuran yang terkenal itu dengan foto-foto proses peletakan batu pertama sampai peresmiannya. Juga tidak kalah penting foto-foto peresmian Gereja Ganjuran yang merupakan jejak katholik Belanda pada tahun 1924. Tidak ketinggalan beberapa benda koleksi peninggalan zaman kolonial seperti mata uang, surat, pakaian dan lain-lain.

Kami kembali ke sisi lain bangunan museum untuk mendengarkan penjelasan dari Ibu Andriani. Penjelasan yang diberikan adalah bahan-bahan untuk membuat madumongso dan  cara pembuatannya. Pembuatan madumongso ada beberapa tahap, tahap yang perama yaitu membuat tape terlebih dahulu baru dicampur dengan bahan kelapa dan gula (enten-enten).. Setelah itu membuat tape ketan caranya beras ketan dikukus, setelah berubah warna baru dicuci kembali kemudian dimasukan lagi, setelah matang ditungggu sampai dingin, setelah dingin dicampur dengan ragi. Setelah jadi tape ketan dimasak kemudian dicampur dengan enten-enten tadi sehinga menjadi madumongso. Selain itu Ibu Adriani juga memasarkan produk madumongso kepada kami dan dijual dengan harga Rp 7.500,-/pack. Ada beberapa orang dari kami yang membeli madumongso. Ibu Andriani memulai usahanya pada tahun 2011, memilih usaha ini karena belum banyak pesaingnya, mungkin karena membuat madumongso cukup sulit dan membutuhkan tenaga yang ekstra.

Madumongso

Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Bu Andriani kami menunggu kelompok kedua kembali ke tampat kami. Selang beberapa waktu kelompok kedua datang dan kami pun mulai makan siang. Setelah makan siang kami berkumpul untuk mendengarkan penjelasan pak Fatkhur. Kemudian setelah selesai kami pun boleh pulang. Kami pulang dengan menggunakan sepeda motor. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dapat berkunjung ke Desa Wisata Ngringinan walaupun capek tapi terbayarkan dengan berbagai informasi yag aku dapatkan.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Manajemen Desa Wisata Template by Ipietoon Cute Blog Design